Terbaru



UNGGULAN

Pengukuhan Pengurus MUI Cangkringan 2021 – 2026

Panewu Kapanewon Cangkringan, Djaka Sumarsono, AP, M.Si., mengukuhkan Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kapanewon Cangkringan Kabupaten...


ARSIP DOKUMEN



Bolehkah Daging Kurban Dibagikan Matang?


Oleh: Eko Mardiono, S.Ag., MSI.

Ada pertanyaan dari seorang teman, Ketua Panitia Penyembelihan Hewan Kurban Tahun 1447 H / 2026 M. Ia menyampaikan bahwa, Panitia Kurban bersama Takmir Masjid setempat dan para Shahibul Kurban telah menyepakati, kepala dan kaki hewan kurban akan dibagikan dalam bentuk sudah matang, yaitu sudah dimasak.

Pertanyaannya: Bagaimana hukum membagikan daging hewan kurban dalam bentuk sudah matang atau sudah dimasak, baik yang berupa kepala, kaki, maupun bagian daging lainnya dari hewan kurban? Apakah boleh? Bukankah perbedaan antara daging kurban dengan daging aqiqah[1] adalah daging kurban dibagi dalam keadaan mentah, sedangkan daging aqiqah dibagi dalam keadaan matang?

Jawaban Pertama: Memang benar, perbedaan pokok antara pembagian daging kurban dengan daging aqiqah adalah daging kurban dibagikan dalam keadaan mentah, sedangkan daging aqiqah dibagikan dalam keadaan matang. Ketentuan ini sebagaimana ketentuan hukum Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 37 Tahun 2019 tentang Pengawetan dan Pendistribusian Daging Kurban dalam Bentuk Olahan poin 1.b, bahwa daging kurban dibagikan dalam bentuk daging mentah, berbeda dengan aqiqah.

Jawaban Kedua: Daging kurban walaupun ketentuan pokoknya dibagi dalam keadaan mentah, tetapi dapat juga dibagi dalam bentuk olahan, yaitu dalan bentuk kornet, rendang atau sejenisnya sebagaimana Fatwa MUI Nomor 37 Tahun 2019 poin 3.b seperti terlampir di bawah ini:

Baca: Fatwa MUI Nomor 37 Tahun 2019

Jawaban Ketiga: Berdasarkan Fatwa MUI Nomor 37 Tahun 2019 di atas, maka kepala dan kaki sapi hewan kurban dapat dibagikan dalam keadaan matang/sudah dimasak, misalnya dalam bentuk tongseng. Apalagi jika mengingat, tidak semua orang dapat memasak sendiri kepala atau kaki hewan kurban. Berbeda apabila kepala dan kaki sapi kurban dimasakkan oleh ahlinya, maka akan membawa kemaslahatan bagi penerima daging kurban.

Jika membawa kemaslahatan, maka berlakulah Kaidah Fiqhiyah:

الْحُكْمُ يَتَّبِعُ اِلَى مَصْلَحَةِ الرَّاجِحَةِ

Artinya: Hukum mengikuti kemaslahatan yang kuat.[2]

Jawaban Keempat: Daging kurban sebaiknya tidak semua dibagikan dalam keadaan matang. Ada sebagian daging bahkan lebih banyak yang dibagikan dalam bentuk mentah untuk memberi kebebasan penerima dalam mengolah daging yang diterimanya. Baru kemudian sebagian daging lainnya dibagikan dalam keadaan matang atau olahan, misalnya berupa kornet, rendang, atau sejenisnya. Apalagi jika dagingnya berupa kepala atau kaki sapi yang tidak semua orang dapat mengolahnya.

Memberikan daging kurban dalam keadaan matang, bentuk olahan berupa kornet, rendang ataupun mentah masih dalam cakupan perintah memberi makan kepada orang fakir, orang cukup, dan orang yang meminta-minta sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT dalam Surat Al-Hajj ayat 28 dan 36, yaitu:

فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَ ۖ

Artinya: Makanlah sebagian darinya dan (sebagian lainnya) berilah makan orang yang sengsara lagi fakir (QS al-Hajj: 28)[3]

فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّۗ

Artinya: Makanlah sebagiannya dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta-minta. (QS al-Hajj: 36)[4]

Ketentuan hukum bahwa sebagian daging kurban dibagi dalam bentuk mentah dan sebagian lainnya dibagi dalam keadaan matang/olahan ini dipilih karena di kalangan ulama terjadi perbedaan pendapat. Ada ulama yang berpendapat, daging kurban harus dibagi dalam bentuk mentah. Ada juga ulama yang berpendapat, daging kurban boleh dibagi dalam keadaan matang/sudah dimasak.

Menurut ulama Syafi’iyah, daging kurban harus dibagikan dalam keadaan masih mentah, tidak boleh dalam keadaan sudah dimasak. Al Khathib Al Syarbaini mengatakan:

وَيُشْتَرَطُ فِي اللَّحْمِ أَنْ يَكُوْنَ نِيْئًا لِيَتَصَرَّفَ فِيْهِ مَنْ يَأْخُذُهُ بِمَا شَاءَ مِنْ بَيْعٍ وَغَيْرِهِ كَمَا فِي الْكَفَّارَاتِ، فَلَا يَكْفِي جَعْلُهُ طَعَامًا وَدُعَاءُ الْفُقَرَاءِ إلَيْهِ؛ لِأَنَّ حَقَّهُمْ فِي تَمَلُّكِهِ لَا فِي أَكْلِهِ وَلَا تَمْلِيْكُهُمْ لَهُ مَطْبُوْخًا[5]

Artinya: “Disyaratkan pada daging (yang wajib disedekahkan) harus mentah, supaya fakir/miskin yang mengambilnya dapat mengelolanya dengan leluasa dengan menjual atau semacamnya, seperti ketentuan dalam bab kafarat (denda), maka tidak cukup menjadikannya masakan (matang) dan mengundang orang fakir untuk memakannya, sebab hak mereka adalah memiliki daging kurban, bukan memakannya. Demikian pula tidak cukup memberikan hak milik kepada mereka berupa daging yang sudah dimasak.”

Sedangkan menurut ulama Hanafiyah, daging kurban boleh dibagikan dalam keadaan matang/sudah dimasak. Imam Al Kasani mengatakan:

والأفضل أن يتصدق  بالثلث ويتخذ الثلث ضيافة لأقاربه وأصدقائه ويدخر الثلث[6]

Artinya: Yang afdhol (utama) adalah mensedekahkan sepertiganya, kemudian menjadikan sepertiganya sebagai jamuan makan untuk para kerabat dan teman [berarti sudah dimasak], dan sepertiganya lagi untuk disimpan.”

Adapun menurut ulama Malikiyyah, daging hewan kurban boleh dibagikan dalam keadaan masih mentah atau dibagikan dalam keadaan matang/sudah dimasak. Imam Ibnu Abdil Barr meriwayatkan perkataan Imam Malik sebagai berikut:

وقال مالك : لا حد فيما يأكل ويتصدق ويطعم الفقراء والأغنياء ، إن شاء نيئاً وإن شاء مطبوخاً[7]

Artinya: “Imam Malik berkata,”Tidak ada batasan pada daging  yang dimakan, disedekahkan, dan diberikan sebagai makanan oleh orang yang berkurban dan bagi kaum fakir serta kaum kaya. Jika mau, orang yang berkurban boleh memberikan dalam kondisi mentah, dan jika mau pula, dia boleh memberikan dalam keadaan matang/sudah dimasak.”

Demikian pendapat para ulama mengenai wujud daging kurban yang dibagikan kepada pihak-pihak yang menerima. Perihal pembagian daging kurban ini ada sabda Nabi Muhammad SAW, yaitu:

عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُوْمِ اْلأَضَاحِى فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ لِيَتَّسِعَ ذَوُو الطَّوْلِ عَلَى مَنْ لاَ طَوْلَ لَهُ فَكُلُوْا مَا بَدَالَكُمْ وَأَطْعِمُوْا وَادَّخِرُوْا. [رواه أحمد ومسلم والترمذي وصححه].

Artinya: “Diriwayatkan dari Buraidah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: ‘Dulu aku pernah melarang kamu sekalian makan daging kurban lewat dari tiga hari supaya orang yang mampu dapat menyantuni orang yang tidak mampu. Sekarang makanlah kalian apa yang tampak, berikanlah untuk makan (orang lain) dan simpanlah’.” [HR. Ahmad, Muslim, dan at-Turmudzi serta dishahihkannya].

Berdasarkan hadis di atas, dapat diketahui bahwa ada 3 (tiga) cara pemanfaatan daging kurban. Yaitu: (1) Dimakan oleh orang yang berkurban; (2) Diberikan untuk makan orang lain (yang tentunya dapat berupa daging matang atau telah dimasak); (3) Disimpan untuk waktu yang lebih lama yang dapat berupa daging olahan: kornet, rendang, atau sejenis lainnya).

Kesimpulan

Berdasarkan Fatwa MUI Nomor 37 Tahun 2019 dan hadis Nabi Muhammad SAW serta pendapat para alim ulama, dapat disimpulkan bahwa, daging kurban pada dasarnya dibagikan dalam keadaan mentah.

Dalam kondisi tertentu, daging kurban dapat juga dibagikan berupa daging olahan yang bertahan lama, sehingga dapat dibagikan secara merata untuk kemaslahatan semua umat.

Daging kurban juga dapat dibagikan berupa daging matang/sudah dimasak, apalagi jika dagingnya berupa kepala atau kaki sapi yang tidak semua orang mampu mengolahnya. Namun, apabila ada daging kurban dibagi dalam keadaan matang/telah dimasak, maka harus tetap ada daging kurban yang dibagi dalam keadaan mentah atau berupa daging olahan yang bertahan lama.

Demikian jawaban dan pembahasan tentang pembagian daging kurban. Semoga bermanfaat. Waallahu a’lam bish-Shawab.


[1] Yang dimaksud aqiqah di sini adalah penyembelihan hewan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas kelahiran seorang anak.

[2] Dr. H. Abdul Halim, S.Ag., M.Ag., Metodologi Penetapan Hukum Islam Ushul Fiqh Praktis, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2023) hlm. 103

[3] Kementerian Agama RI Al-Quran dan Terjemahnya (Jakarta: tnp, 2012) hlm. 466

[4] Kementerian Agama RI Al-Quran dan Terjemahnya (Jakarta: tnp, 2012) hlm. 468

[5] Khathib Asy Syarbaini, Mughni Al Muhtaj ila Ma’rifat Ma’ani Alfazhi Al Minhaj, Beirut : Darul Ma’rifah, Cet I, 1997/ 1418, Juz IV, hlm. 38

[6] Imam Al Kasani, Bada`i’u Al Shana`i’, Beirut : Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, 1424/2002, Cet II, Juz VI, hlm. 329; Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, Juz V, hlm. 102

[7] Ibnu Abdil Barr, Al Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah Al Maliki, Juz I, hlm. 424


Fatwa MUI No. 37 Tahun 2019 ttg Pengawetan dan Pendistribusian Daging Kurban